Featured

SELAMAT DATANG DI BLOG YANG SEDERHANA INI.
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

0 Merantaulah – Imam Al-Syafi’i Rahimahullah

MERANTAULAH” (Syair Imam Asy-Syafi’i)


ما في المقام لـذي عقـلٍ وذي أدبٍ من راحة فـدع الأوطـان واغتـرب سافر تجـد عوضـاً عمـن تفارقـه وانصب فإن لذيذ العيش في النصـب إني رأيـت وقـوف المـاء يفسـده إن ساح طاب وإن لم يجر لم يطـب والأسد لولا فراق الأرض ما افترست والسهم لولا فراق القوس لم يصـب والشمس لو وقفت في الفلك دائمـه ًلملها الناس من عجـم ومـن عـرب والبدر لولا أفول منه ما نظرت إليه في كل حين عين مرتقب والتبر كالترب ملقـي فـي أماكنـه والعود في أرضه نوع من الحطـب فـإن تغـرب هـذا عـز مطلـبـه وإن تغـرب ذلـك عـز كالـذهـب الإمام الشافعي انصب = اتعب واجتهد ساح = جرى أفول = غياب مرتقب = من يترقب ظهوره التبر = الذهب غير المصوغ او المضروب عز = إمتنع
.

Merantaulah

Orang pandai dan beradab tak kan diam di kampung halaman
 Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
 Pergilah ‘kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
 Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
 Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
 Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia ‘kan keruh menggenang
 Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
 Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran
 Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam
 Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
 Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang
 Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
 Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
 Kayu gahru tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
 Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan…

Oleh: Imam Al-Syafi’i Rahimahullah…
Read more

0 Setitis Airmata Dan Seulas Senyuman

Takkan kutukar dukacita hatiku demi kebahagiaan khalayak. Dan, takkan kutumpahkan air mata kesedihan yang mengalir dari tiap bahagian diriku berubah menjadi gelak tawa. Kuingin diriku tetaplah setitis air mata dan seulas senyuman.

Setitis airmata yang menyucikan hatiku dan memberiku pemahaman rahsia kehidupan dan hal ehwal yang tersembunyi. Seulas senyuman menarikku dekat kepada putera kesayanganku dan menjelma sebuah lambang pemujaan kepada tuhan.

Setitis airmata meyatukanku dengan mereka yang patah hati; Seulas senyum menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam kewujudan.

Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan berbanding jika aku hidup menjemukan dan putus asa.

Aku bersedia kelaparan demi cinta dan keindahan yang ada di dasar jiwaku setelah kusaksikan mereka yang dimanjakan amat menyusahkan orang. Telah kudengar keluhan mereka dalam hasrat kerinduan dan itu lebih manis daripada melodi yang termanis.

Ketika malam tiba bunga menguncupkan kelopak dan tidur, memeluk kerinduannya. tatkala pagi menghampiri, ia membuka bibirnya demi menyambut ciuman matahari.

Kehidupan sekuntum bunga sama dengan kerinduan dan pengabulan. Setitis airmata dan seulas senyuman.

Air laut menjadi wap dan naik menjelma menjadi segumpal mega. Awan terapung di atas pergunungan dan lembah ngarai hingga berjumpa angin sepoi bahasa, jatuh bercucuran ke padang-padang lalu bergabung bersama aliran sungai dan kembali ke laut, rumahnya.

Kehidupan awan-gemawan itu adalah sesuatu perpisahan dan pertemuan. Bagai setitis airmata seulas senyuman. Dan, kemudian jiwa jadi terpisahkan dari jiwa yang lebih besar, bergerak di dunia zat melintas bagai  segumpal mega diatas pergunungan dukacita dan dataran kebahagiaan.

Menuju samudera cinta dan keindahan – kepada Tuhan.

~ Khalil Gibran
Read more

0 Kekasihku, Layla By Khalil Gibran

Kemarilah, kekasihku.
 Kemarilah Layla, dan jangan tinggalkan aku.
 Kehidupan lebih lemah daripada kematian, tetapi kematian lebih lemah daripada cinta…

.

Engkau telah membebaskanku, Layla, dari siksaan gelak tawa dan pahitnya anggur itu.
 Izinkan aku mencium tanganmu, tangan yang telah memutuskan rantai-rantaiku.
.

Ciumlah bibirku, ciumlah bibir yang telah mencuba untuk membohongi dan yang telah menyelimuti rahsia-rahsia hatiku.
.

Tutuplah mataku yang meredup ini dengan jari-jemarimu yang berlumuran darah.

Ketika jiwaku melayang ke angkasa, taruhlah pisau itu di tangan kananku dan katakan pada mereka bahawa aku telah bunuh diri kerana putus asa dan cemburu.

Aku hanya mencintaimu, Layla, dan bukan yang lain, aku berfikir bahwa tadi lebih baik bagiku untuk mengorbankan hatiku, kebahagiaanku, kehidupanku daripada melarikan diri bersamamu pada malam pernikahanmu.
 Ciumlah aku, kekasih jiwaku… sebelum orang-orang melihat tubuhku…
 Ciumlah aku… ciumlah, Layla…

Khalil Gibran
Read more

0 Surat Dari Kekasih By Khalil Gibran

Untukmu yang selalu Kucintai,
 Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan
 berharap engkau akan berbicara kepadaKu., bercerita,
 meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu
 walaupun hanya sepatah kata.
.

Atau berterima kasih kepadaKu atas sesuatu hal yang
 indah yang terjadi dalam hidupmu pada tadi malam, kemarin, atau waktu yang lalu….
 Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja…
 Tak sedikitpun kau menyedari Aku di dekat mu.
.

Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
 Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu, tetapi engkau terlalu sibuk…

Di satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun.
 Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu.
 Aku berfikir engkau akan datang kepadaKu, tetapi engkau
 berlari ke telefon dan menelefon seorang teman untuk sekadar berbual-bual.

Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku
 menanti dengan sabar sepanjang hari. Namun dengan
 semua kegiatanmu Aku berfikir engkau terlalu sibuk
 untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.

Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke
 sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara
 kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak
 sedikitpun menyapaKu.

Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
 melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKu
 dengan lembut sebelum menjamah makanan yang kuberikan,
 tetapi engkau tidak melakukannya…..

Ya, tidak mengapa, masih ada waktu yang tersisa dan
 Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu,
 meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya
 seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu selesai, engkau menghidupkan TV, Aku
 tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak,
 hanya engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak
 waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun
 dan hanya menikmati siaran yang ditampilkan, hingga waktu-
 waktu untukKu dilupakan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menikmati
 makananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut namaKu
 dan berterima kasih atas makanan yang telah Kuberikan.

Saat tidur Kufikir kau merasa terlalu lelah.
 Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
 kau melompat ke tempat tidurmu dan tertidur tanpa
 sepatahpun namaKu kau sebut. Tidak mengapa kerana mungkin
 engkau masih belum menyedari bahawa Aku selalu hadir untukmu.

Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sedari.
 Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata darimu, ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.

Baiklah….. engkau bangun kembali dan kembali Aku
 menanti dengan penuh kasih bahawa hari ini kau akan
 memberiKu sedikit waktu untuk menyapaKu…

Tapi yang Kutunggu … ah tak juga kau menyapaKu.
 Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh lagi
 kau masih tidak mempedulikan Aku.

Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, tak ada
 pula harapan dan keinginan untuk sujud kepadaKU….

Apakah salahKu padamu …? Rezeki yang Kulimpahkan,
 kesihatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan, makanan
 yang Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukurniakan,
 kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak
 membuatmu ingat kepadaKu ???

Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap
 berharap suatu saat engkau akan menyapaKu, memohon
 perlindunganKu, bersujud menghadapKu … Kembali kepadaKu.

Yang selalu bersamamu setiap saat,
 Tuhanmu….

~ Khalil Gibran

sumber: http://www.2lisan.com/tulisan/puisi-syair/surat-dari-kekasih-khalil-gibran/
Read more

0 Puisi Rabiatul Adawiyah



Hatiku tenteram dan damai jika aku diam sendiri
ketika Kekasih bersamaku
cintaNya padaku tak pernah berbahagi
dan dengan benda yang sana selalu mengujiku
bilakah dapat kurenungi keindahanNya?

Dia akan menjadi mihrabku
dan arahnya menjadi kiblatku
bila kumati kerana cinta, sebelum terpuaskan
akan terseksa dan lukalah aku di dunia ini
oh penawar jiwaku, hatiku
adalah santapan yang tersaji bagi mahuNya
barulah jiwaku pulih jika telah bersatu denganMu
oh sukacita dan nyawaku moga kekal lah
dan diriMu juga berahiku berasal
dari semua benda fana di dunia ini
diriku telah tercerai
hasratku adalah bersatu denganMu
melabuhkan rindu.

Read more

Delete this element to display blogger navbar

 
© K4ng Thowil | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger
back to top