Featured

SELAMAT DATANG DI BLOG YANG SEDERHANA INI.
Tampilkan postingan dengan label Pidato. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pidato. Tampilkan semua postingan

0 Pranatacara dalam bahasa Jawa sebagai Sumber Kearifan dalam Kehidupan Bermasyarakat

abstrak

Pranatacara atau sering disebut pambyawara, pranata adicara, pranata titilaksana atau pranata laksitaning adicara adalah salah satu jenis pekerjaan yang berhubungan dengan suatu pertemuan atau acara dalam masyarakat Jawa. Pranatacara dalam bahasa Indonesia disebut pewara. Pranatacara merupakan pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus karena orang yang melakukan pekerjaan tersebut biasanya memahami dengan benar susunan suatu acara dengan menggunakan bahasa Jawa krama Inggil. Pranatacara lebih sering dihubungkan dengan upacara adat pengantin Jawa. Kehadiran pranatacara dalam budaya masyarakat Jawa merupakan suatu bentuk pelestarian budaya Jawa yang adiluhur sebagai sumber kearifan dalam kehidupan bermasyarakat yang mencerminkan identitas lokal masyarakat Jawa sehingga akan sangat penting bagi masyarakat Jawa untuk tetap melestarikan budaya tersebut dalam kehidupan bermasyarakat. Semakin banyak orang mengenal dan mendengar bahasa Jawa di ranah publik, maka semakin kokohlah bahasa Jawa sebagai cermin budaya bangsa yang ikut membesarkan bangsa Indonesia.

Kata kunci: pranatacara, bahasa Jawa, budaya

A. Pranatacara dalam Bahasa Jawa
1. Pengertian
Pranatacara atau sering disebut pambyawara, pranata adicara, pranata titilaksana atau pranata laksitaning adicara adalah salah satu jenis pekerjaan yang berhubungan dengan suatu pertemuan atau acara dalam masyarakat Jawa. Pranatacara dalam bahasa Indonesia disebut pewara. Pranatacara merupakan pembawa acara dalam upacara adat Jawa seperti pernikahan (temanten), kematian (kesripahan), pertemuan (pepanggihan), perjamuan (pasamuan), pengajian (pengaosan), pentas, dan sebagainya.
Profesi pranatacara sudah mendapat pengakuan dan memperoleh penghargaan yang baik dari masyarakat dan berkembang menjadi suatu profesi yang menguntungkan. Peran pranatacara dalam acara-acara resmi maupun hiburan, tetap menjadi tolak ukur dari sukses tidaknya suatu acara, sehingga dapat dibayangkan bagaimana bila suatu acara tidak ada pranatacaranya, maka acara tersebut akan terasa tidak urut dan tidak enak dilihat. Untuk menjadi seorang pranatacara tidak hanya mempunyai bekal keberanian, tetapi juga harus mempunyai bekal kemampuan. Keberanian akan timbul apabila seseorang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, dan rasa percaya diri ini timbul bila seseorang tersebut mempunyai keyakinan atas kemampuan yang dimiliki.

2. Syarat menjadi pranatacara
Seorang pranatacara harus dapat melafalkan dengan benar kata-kata bahasa Jawa krama inggil. Iapun diwajibkan mampu mengendalikan suaranya agar tetap menarik dan tidak menjemukan. Selain suara, nafas juga harus di kendalikan secara teratur. Beberapa syarat yang biasanya menjadi dasar bagi seorang pranatacara agar mampu melaksanakan tugasnya adalah sebagai berikut:
a.    Olah swara (teknik vocal)
Suara adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, artinya adalah bahwa setiap orang memiliki bobot suara yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Ada yang tinggi, sedang, dan kecil. Dalam bahasa Jawa, suara yang bagus disebut gandhang, yaitu tidak berisik, pelan dan nyaman didengar. Suara gandhang enak didengar, penuh wibawa, dan menunjukkan kepribadian. Sebagai pranatacara, maka suara adalah hal pertama yang harus diperhatikan sebelum memulai aktivitas kepranatacaraannya. Berikut ini adalah beberapa hal yang membantu pranatacara dalam olah swara (teknik vocal).
1)    Aksentuasi (accentuation) atau logat. Suara pranatacara tidak tercampur dengan dialek atau logat daerah, artinya suaranya menggunakan bahasa baku. Dalam bahasa Jawa, yang dianggap baku adalah logat/dialek Surakarta dan Ngayogyakarta hadiningrat. Untuk dialek tidak baku seperti dialek Banyumas, Jawa Timuran dan lainnya bisa digunakan dalam acara santai atau sebagai selingan agar acara tidak terasa sepi sunyi.
2)    Artikulasi (articulation) atau pocapan. Yaitu kejelasan pengucapan kalimat dan pelafalan kata. Huruf mati dan huruf hidup diucapkan dengan tegas dan jelas, tidak mendengung (bindheng). Pranatacara harus mengerti cara pengucapan bahasa Jawa dengan benar, begitu juga bahasa Indonesia atau bahasa asing yang mungkin harus diucapkan ketika ada tamu yang tidak mengerti bahasa Jawa krama Inggil. Kekeliruan dalam mengucapkan suatu kata bisa merendahkan kewibawaan pranatacara.
3)    Nafas (breath) atau prana. Nafas tidak dipaksakan, tidak terengah-engah, sehingga tampak wajar. Dengan pengaturan nafas yang baik, maka seorang pranatacara bisa memberi jeda frasa, kalimat, ungkapan (basa pinathok) dan pernyataan dengan tepat maknanya. Sikap berdiri yang tegak, rileks, pakaian yang longgar/tidak sesak di badan, dapat melonggarkan aliran nafas sehingga suara menjadi lebih alami.
4)    Kecepatan (speed) bicara dan Intonasi (intonation) nada suara atau membat mentul swara. Hal ini berhubungan dengan intonasi, aksen, pacing (tempo), pitch (nada), juncture (titik waktu). Intonasi berkenaan dengan pungtuasi seperti koma, titik, titik koma, tanda perintah, tanda tanya. Aksen berkenaan dengan stress (tekanan). Pitch berkenaan dengan tinggi rendahnya suara sesuai dengan acara yang sedang digelar. Untuk acara resmi seperti temanten, kesripahan, pahargyan, menggunakan suara rendah, kalem, namun untuk acara hiburan menggunakan suara tinggi. Tempo berkenaan dengan cepat dan lambatnya suara. Juncture berkenaan dengan waktu pengambilan nafas agar nafas tidak terengah-engah saat menjalankan acara.
5)    Empati atau kajiwa. Suara yang diucapkan harus bisa menyesuaikan dengan kondisi kejiwaan suatu acara. Pengucapan harus sesuai dengan suasana acara apakah acara tersebut memiliki unsur senang, susah, doa, atau gembira.
6)    Infleksi atau lagu kalimat (perubahan nada suara). Lebih baik hindari pengucapan yang sama bagi setiap kata (redundancy). Infleksi naik menunjukkan adanya lanjutan kalimat atau menurun untuk menunjukkan akhir kalimat.
b. Olah raga lan busana (penampilan)
Di dalam bahasa Jawa terdapat sebuah peribahasa ajining dhiri gumantung kedaling lathi, ajining raga gumantung ing busana. Peribahasa tersebut sangat sesuai dengan profesi pranatacara. Seorang pranatacara akan tampil dengan sangat bagus jika didukung oleh bagusnya suara, postur badan dan pakaiannya. Olah raga berhubungan dengan sikap, solah bawa, kesusilaan, dan subasita. Berikut ini adalah tujuh bentuk olah raga sebagai pranatacara:
1)    Magatra: badan, wajah, cara berdandan dan berpakaian, sesuai, pantas, sikap wajar, tidak dibuat-buat.
2)    Malaksana: cara melangkah dan berjalan selangkah dua langkah urut, luwes, tidak ragu-ragu.
3)    Mawastha: berdiri tegak, tidak menyondong.
4)    Maraga: mantap, tenang, tidak gemetaran, kepala tegak, menatap ke depan, gerakan tangan teratur untuk menunjukkan kejelasan ucapan.
5)    Malaghawa: terampil, lancar, tidak lambat namun juga tidak terlalu cepat.
6)    Matanggap: tanggap terhadap situasi yang dihadapi, ketika berhadapan dengan situasi acara yang membutuhkan ketenangan, kekusyukan, bisa ikut tenang dan khusyu’, jika berhadapan dengan situasi acara yang membutuhkan suasana segar dan menyenangkan, bisa ikut membuat suasana menjadi gembira, dan sebagainya.
7)    Mawwat: mantab, menyelesaikan acara dengan baik, sesuai dengan yang diharapkan penyelenggara acara.
Olah raga, atau cara berpenampilan yang baik bagi seorang pranatacara selalu diawali dengan keadaan tubuh yang sehat, suara yang tidak serak, volume suara yang enak didengar, tidak melengking dan tidak rendah. Ia harus mengenali tempat dimana acara akan diselenggarakan, mengenali karakteristik tamu dan memandang mereka sebagai sahabat. Ia bisa melakukan gerakan tangan seperlunya saat berada di atas pentas, tidak berlebihan apalagi untuk menutupi kegugupan, karena gerakan tubuh yang berlebihan hanya akan mengacaukan penampilan dan tampil percaya diri.
Olah busana atau cara berpakaian yang baik bagi seorang pranatacara merupakan hal yang wajib diketahui dan dimengerti dengan baik agar penampilan dan gaya berpakaian sesuai dengan acara yang sedang dibawakan. Memakai pakaian yang serasi/cocok dengan acara, harus dibicarakan dengan panitia acara, contohnya ketika menjadi pranatacara adat temanten Jawa, apakah menggunakan pakaian adat/kejawen (busana adat Ngayogyakarta atau Surakarta), seragam dengan panitia ataukah tidak, menggunakan busana nasional/formal ataukah tidak. Busana dalam acara pernikahan tentu akan berbeda dengan busana ketika menjadi pranatacara kematian. Busana resmi akan berbeda dengan busana santai. Busana yang dipakai dalam acara yang diselenggarakan didalam gedung pasti akan berbeda dengan acara yang diselenggarakan dirumah. Warna busanapun harus dipilih dengan seksama, agar tidak terlihat menyolok, terlalu terang, atau terlalu banyak memakai aksesoris.
c. olah basa lan sastra (kemampuan berbahasa dan sastra)
Agar dapat mengolah bahasa dengan baik, seorang pranatacara harus mengetahui dan memahami paramasastra (fonologi, morfologi, semantik, sintaksis), wacana, dan pragmatik. Pengetahuan yang luas mengenai paramasastra Jawa diharapkan dapat membuat pranatacara mampu mengucapkan kata-kata, frasa, kalimat, ungkapan, wacana Bahasa Jawa krama inggil dengan laras dan leres. Laras artinya, pranatacara mampu menggelar acara sesuai dengan keadaan dan suasana. Leres artinya pranatacara bisa menggunakan bahasa yang sesuai dengan paramasastranya.
Bahasa Jawa memiliki pola bahasa yang bertingkat-tingkat, yakni: basa krama, madya, dan ngoko. Basa krama yang biasanya dipakai sebagai bahasa pengantar bagi pranatacara dalam melaksanakan tugas kepranatacaraannya. Bahasa Jawa juga memiliki basa Jawa baru dan lama. Rerengganan biasanya memakai bahasa Jawa lama/kawi yang memiliki aspek sastra tinggi. Untuk menampilkan ciri sastra, pranatacara menggunakan purwakanthi (limaksita, sastra, swara) atau nyekar (tembang).
Contoh purwakanthi lumaksita (purwakanthi basa):
Nun inggih naming Dhimas Sujatmika ingkang kuwawi methik puspita, puspita cempaka, cempaka kang lagya ambabar ganda arum, boten sanes inggih naming Risang Ahayu Retna Kumala. (dikutip dari Pringgawidagda, 1998: 20)
Contoh purwakanthi sastra:
Bokmenawi atur kula wonten cicir cewet kuciwanipun, kula nyuwun agunging pangaksama.
Wijang wijiling wicara panjenenganipun Rama Sudira kang pindha pinandhita paring sesuluh seserepan dhumateng rising temanten kekalih.
Gumarenggeng ambrengengeng kadya sasra bremana ingkang mider hangupeng puspita, hanenggih menika rata kencana ingkang tinitihan dening putra calon penganten kakung ingkang sampun manjing gapuraning palataran. (dikutip dari Pringgawidagda, 1998: 20)
Ketika penganten hendak melakukan kirab, maka pranatacara dapat melantunkan sekar kinanthi:
Arsa tedhak sang Dyah Ayu, Keng raka tansah kinanthi, Bagus Dendy setiawan, Kalian Dewi Sitoresmi, arsa kirab kanarendran,Gandheng renteng kanthen nyari.
Ketika selesai pahargyan, pranatacara melantunkan sekar pucung:
Sampun rampung pahargyan temantenipun, Kanthi karaharjan, Binerkahan mring Hyang Widhi, Sri panganten binedhol nuju wiwara.
d. pangrengga swara (sound system)
Kemajuan teknologi membantu pranatacara mengolah suaranya. Suara yang pelan bisa terdengar lebih jelas, suara yang enteng akan terdengar lebih mantab. Dekat dan jauhnya letak mikrofon dari mulut pranatacara bisa dipakai untuk membedakan suara berat, ringan, pelan, cepat, dan memperjelas desis ketika melafalkan kata-kata bahasa Jawa dalam tingkatan krama inggil.
e. papan (tempat)
Tempat dimana seorang pranatacara harus berdiri haruslah sesuai dengan suasana, tidak terlalu dekat dengan tamu, dan tidak terlalu jauh dari tamu apalagi tidak terlihat sama sekali oleh tamu. Yang paling ideal adalah tempat dimana seorang pranatacara bisa melihat tamu dan seisi tempat acara dengan jelas, juga dekat dengan panitia acara, penata sound system sehingga mengerti jalannya acara dari awal hingga akhir.
f. pawiyatan (pendidikan)
Menjadi seorang pranatacara bisa dipelajari melalui pendidikan formal seperti di UNY program studi bahasa Jawa, pendidikan non formal seperti kursus, penataran, pelatihan atau belajar sendiri. Ilmu umum yang dipelajari melalui pendidikan, baik formal maupun non formal, harus diimbangi dengan ilmu agama sehingga ia mampu memaparkan ayat-ayat dari kitab apapun. Jadi dan tidaknya seseorang sebagai pranatacara yang mumpuni tergantung niat dan kemauan. Meskipun tidak belajar melalui pendidikan formal, apabila ia mau belajar melalui pendidikan non formal ditambah mau belajar langsung dari situasi dan suasana dimana acara digelar, ia pastilah bisa menjadi seorang pranatacara yang baik dan handal. 
g. mental
Tidak semua orang memiliki mental baja, ada yang berani, ada yang malu-malu. Bisa saja terjadi, seseorang yang sudah belajar dengan tekun, bahkan telah dihapalkan sebelumnya, namun ketika berhadapan dengan tamu yang banyak, mentalnya menjadi ciut, oleh karena seorang pranatacara tidak boleh salah ucap, dan grogi sehingga kata-kata yang seharusnya diucapkan mantap menjadi acak-acakan dan sekenanya saja. Mental yang tidak kuat, bisa terlihat dari suara yang grogi, badan gemetar, sering salah ucap, dan berdebar-debar.
Agar seorang pranatacara punya mental baja, kuat, dan berani tampil dengan hasil maksimal, maka dibutuhkan latihan yang terus menerus dan bisa melakukan gladhi (gladhi simulasi ataupun gladhi sebenarnya). Gladhi simulasi adalah melakukan tugas pranatacara seperti menghadapi tamu yang sebenarnya diluar acara. Gladhi sebenarnya adalah mengikuti kegiatan mranatacara pada acara yang sebenarnya dengan berdiri di dekat pranatacara profesional saat melakukan pekerjaannya. Ketika sudah merasa berani tampil sendirian, ia bisa mencoba satu dua titilaksana dalam acara tersebut bergiliran dengan pranatacara yang telah profesional (biasanya acara yang memiliki banyak titilaksana adalah acara temanten). Ketika sudah merasa bisa, maka ia bisa melaksanakan tugas pranatacara sendiri.
h. ketewajuhan (kedisiplinan)
Ketewajuhan berkenaan dengan disiplin waktu dan tugas. Disiplin waktu berarti ia harus datang lebih awal dari para tamu yang sebenarnya, memulai acara sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, dan mengakhiri acara sesuai dengan waktunya. Disiplin dalam tugas artinya melaksanakan kewajiban sesuai dengan yang diminta penyelenggara acara, tidak meninggalkan tempat acara sebelum acara selesai digelar.
i. gladhen (gladi)
Ada tiga tingkatan pranatacara, yaitu pemula, madya, dan professional. Pranatacara pemula biasanya sebelum melaksanakan tugas kepranatacaraannya, ia membuat teks terlebih dahulu dan dihapalkan. Pranatacara madya biasanya hanya membuat catatan garis besar acara yang hendak ia laksanakan. Pranatacara professional biasanya tidak memerlukan persiapan serius dan matang untuk melaksanakan tugas kepranatacaraannya. Ia bisa diminta kapan saja alias mendadak. Pranatacara pada tingkatan manapun harus melakukan gladhi acara agar acara yang dibawakannya bisa berjalan lancar, kata-kata bisa tepat, suaranya bisa terdengar bagus dan mampu membawakan acara dari awal hingga akhir dengan baik.
j. kasamaptaan (persiapan)
Persiapan sangat penting bagi seorang pranatacara. Siap dalam arti mampu mempersiapkan diri dalam hal kesehatan, penampilan, pakaian, dan acara. Jangan sampai ketika di daulat menjadi pranatacara, ia sakit sehingga penyelenggara acara harus mencari pengganti. Penampilan dan pakaian sangat mempengaruhi kewibawaan seorang pranatacara, sehingga ia harus mempersiapkan dengan matang kedua hal tersebut sebelum acara digelar. Siap dalam acara berarti bahwa seorang pranatacara harus berkomunikasi dengan penyelenggara acara, panitai acara, bagaimana sebaiknya acara digelar. Jangan sampai seorang pranatacara memberikan jeda waktu istirahat, sementara panitia belum siap untuk menyuguhkan makanan dan minuman.
3. Kode etik pranatacara
a. Pengertian
Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya.
Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip prinsip moral yang ada pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik.
Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dengan mengandalkan keahlian. Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu:
1) Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
2) Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
3) Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi dibawah kepentingan masyarakat.
Kode etik profesi merupakan norma yang ditetapkan dan diterima oleh sekelompok profesi, yang mengarahkan atau memberi petunjuk kepada anggotanya bagaimana seharusnya berbuat dan sekaligus menjamin mutu profesi itu dimata masyarakat. Apabila anggota kelompok profesi itu menyimpang dari kode etiknya, maka kelompok profesi itu akan tercemar di mata masyarakat. Oleh karena itu, kelompok profesi harus mencoba menyelesaikan berdasarkan kekuasaannya sendiri.
Tanggung jawab profesi yang lebih spesifik yaitu:
1) Mencapai kualitas yang tinggi dan efektifitas baik dalam proses maupun produk hasil kerja profesional.
2) Menjaga kompetensi sebagai profesional.
3) Mengetahui dan menghormati adanya hukum yang berhubungan dengan kerja yang profesional.
4) Menghormati perjanjian, persetujuan, dan menunjukkan tanggung jawab.

b. Kode etik pranatacara
Menjadi seorang pranatacara berarti memahami etika pranatacara, etika tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
1)    Bila diminta penyelenggara acara tidak menolak. Apabila hendak menolak, maka harus memberikan penjelasan dengan cara yang baik, sopan, halus, dan berhati-hati apalagi bila menyangkut masalah permintaan yang merupakan “sambatan” alias sukarela tanpa dibayar.
2)    Harus bisa meyakinkan penyelenggara acara agar mantap dalam memilihnya sebagai calon pranatacara, namun seorang pranatacara tidak boleh sombong dengan membicarakan kemampuannya sebelum tugas dilaksanakan.
3)    Siap melaksanakan tugas.
4)    Bila bertanya tentang waktu acara (baik siang atau malam), nama tempat, denah lokasi, dan sebagainya dengan jelas sehingga tidak terjadi miskomunikasi atau kesalahpahaman.
5)    Jangan pernah meminta untuk dijemput kecuali jika waktunya terlalu mepet.
6)    Jauhi pembicaraan tentang honor atau upah.
7)    Jauhi permasalahan pribadi (seperti apakah pengantinnya duda atau janda: untuk perhelatan temanten (pernikahan), meninggal karena apa: untuk acara layatan, dan sebagainya).
8)    Jangan menyebut merek sound system.
9)    Bila bisa, upayakan datang setengah jam sebelum acara dimulai.
B. Pranatacara dalam Bahasa Jawa sebagai Sumber Kearifan dalam Kehidupan Bermasyarakat
1. Pengertian kearifan dan kebudayaan
Kearifan merupakan “sesuatu” yang dihasilkan dari sebuah kecerdasan manusia yang dapat digunakan oleh sesamanya sebagai sarana pencerdasan pula. Kearifan dihasilkan dari proses pemikiran dan pengambilan keputusan yang bijaksana, tidak merugikan semua pihak, serta bermanfaat bagi siapapun yang tersapa oleh kearifan itu. Kearifan dapat menjadi sarana pemelajaran bagi setiap manusia untuk menjadi orang yang cerdas, pandai, dan bijaksana.
Kebudayaan dapat diartikan sebagai seluruh usaha dan hasil usaha manusia dan masyarakat untuk mencukupi segala kebutuhan serta hasratnya untuk memperbaiki hidupnya. Kearifan dalam budaya adalah seluruh usaha dan hasil usaha manusia dan masyarakat yang dilakukan dan ditujukan untuk memberikan makna manusiawi dan membuat tata kehidupan yang manusiawi pula. Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, usaha dan hasil budaya manusia diarahkan untuk meningkatkan harkat dan nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Kearifan dalam budaya merupakan bentuk kecerdasan yang dihasilkan oleh masyarakat pemilik kebudayaan yang bersangkutan. Sebuah kearifan lokal merupakan kecerdasan yang dihasilkan berdasarkan pengalaman yang dialami sendiri sehingga menjadi milik bersama.
Kearifan lokal budaya Jawa merupakan wujud kecerdasan yang dihasilkan oleh pengalaman hidup masyarakat Jawa sendiri, bukan oleh pengalaman hidup bangsa atau suku lain. Mempelajari dan menghayati budayanya sendiri akan menghasilkan kecerdasan bagi para pelakunya, karena mereka terlibat langsung dalam penciptaan budayanya, melalui pengalaman hidup yang dijalani bersama, namun bukan berarti kebudayaan suku atau bangsa lain tidak dapat dipelajari.

Kearifan lokal merupakan kecerdasan manusia yang dimiliki oleh sekelompok etnis manusia yang diperoleh melalui pengalaman hidupnya serta terwujud dalam ciri-ciri budaya yang dimilikinya. Kearifan lokal memiliki ketahanan terhadap unsur-unsur yang datang dari luar dan mampu berkembang untuk masa-masa mendatang. Kepribadian suatu masyarakat ditentukan oleh kekuatan dan kemampuan kearifan lokal dalam menghadapi kekuatan dari luar. Jika kearifan lokal hilang atau musnah, maka kepribadian bangsapun memudar.
Orang Jawa yang masih menghayati ke-Jawa-annya, memandang bahwa kebudayaan Jawa merupakan kebudayaan yang adiluhung. Adiluhung dapat dipadankan dengan luhur. Kebudayaan adiluhung artinya kebudayaan luhur yang diciptakan untuk mencapai tujuan yang luhur. Ketika orang Jawa mengajarkan pengetahuan, pranata, adat, norma-norma, ataupun nilai-nilai Jawa kepada generasi berikutnya tentu mereka menanamkan bahwa orang Jawa wajib melestarikan kebudayaan Jawa yang adiluhung itu.
Keyakinan atas keadiluhungan kebudayaan mewujud menjadi sebuah hukum yang ketat yang dijabarkan dalam pranata adat ataupun aturan-aturan di dalam kehidupan keluarga. Kebudayaan yang adiluhung yang mereka yakini dapat terpinggirkan oleh budaya lain atau bahkan terlupakan dan pada akhirnya punah. Jika kebudayaan Jawa tidak dianut lagi, barangkali, generasi berikutnya menjadi generasi yang tidak lagi berperilaku njawani seperti layaknya orang Jawa. 

2. Pranatacara dalam Bahasa Jawa sebagai Sumber Kearifan dalam Kehidupan Bermasyarakat
Bahasa merupakan pengejawantahan dari apa yang dipelajari dan dipikirkan manusia. Bahasa merupakan representamen kebudayaan. Kebudayaan merupakan keseluruhan proses pemikiran dan hasil usaha manusia untuk mengatasi keterbatasan manusia dalam mempertahankan dan memfasilitasi keberadaan hidupnya yang dipahami melalui proses belajar hingga menjadi milik bersama.
Bahasa yang dipakai oleh seorang pranatacara adalah bahasa Jawa krama inggil, yakni bahasa Jawa yang tingkatannya berada paling tinggi. Bahasa Jawa krama inggil memiliki unsur sastra dan seni yang tinggi. Bahasa ini biasanya dipakai dalam situasi resmi. Unsur seni yang tampil dalam bahasa Jawa krama inggil antara lain berupa pilihan susunan kata-kata, metaphor, dan kesamaan bunyi mengubah tuturan yang disampaikan menjadi tuturan yang puitis. Tuturan yang disajikan dengan bahasa seni (bahasa yang indah) disebut basa rinengga yaitu bahasa yang diperindah. Cara memperindah tuturan dimaksud dilakukan dengan mengubah kalimat dan mengganti kata-kata tertentu dengan kata-kata lain yang bersinonim atau menggunakan metaphor.
Unsur seni yang berupa persamaan bunyi dalam tuturan bahasa Jawa disebut purwakanthi yakni menyebut kembali apa yang telah diujarkan dedepannya (sebelumnya). Seorang pranatacara biasa menggunakan bentuk ini dalam acara temanten. Unsur seni yang terdapat dalam tuturan formal pada upacara temanten berupa penyulihan kata-kata yang lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari dengan kata-kata sinonimnya diambil dari ragam sastra. Penggunaan kata-kata dari ragam sastra merupakan sebuah kelaziman yang hadir dalam tuturan pidato pranatacara. Selain menciptakan rasa kenyamanan, bahasa seni yang dihadirkan dalam upacara temanten mampu menciptakan suasana agung dan sakral. 
Pranatacara adalah sebuah profesi yang erat kaitannya dengan budaya dan bahasa Jawa. Kehadirannya ditengah masyarakat menjadikan budaya Jawa yang adiluhung tetap dipakai dalam kehidupan bermasyarakat. Kita bisa membayangkan jika sudah tidak ada lagi masyarakat Jawa yang menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupannya, dan tidak pernah mendengar orang menggunakan bahasa tersebut didalam masyarakat, maka bahasa Jawa lama-kelamaan pasti akan hilang keberadaannya.
Pranatacara dalam bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat Jawa dalam situasi resmi dan sakral maupun situasi santai akan menjadi salah satu unsur pembangkit dipakainya kembali bahasa Jawa di ranah publik. Kecakapan pranatacara dalam menjalankan profesinya, didukung oleh pemahaman masyarakat Jawa pada umumnya, bahwa acara-acara sakral dan agung tidaklah nyaman dihati mereka jika tidak ada unsur ke-Jawa-annya. Unsur ke-Jawa-an yang dimaksud adalah penggunaan bahasa Jawa krama inggil dengan unsur seni dan sastra yang tinggi sehingga suasana kesakralan akan terasa dan menyentuh hati. Sekarang ini seperti sedang berkembang suatu tren, baik di kalangan keraton, pejabat negara, pengusaha, maupun rakyat biasa yang menggunakan jasa pranatacara sebagai pembawa acara yang mereka gelar. Dalam hal ini, fungsi pranatacara sebagai salah satu pemakai dan pelestari budaya Jawa menjadi sangat berarti.
Tren yang sedang berkembang hendaknya terus di uri-uri / dilestarikan agar anak dan cucu dapat terus menjumpai dan mendengar bentuk-bentuk sastra Jawa yang adiluhung di masyarakat. Seringnya menjumpai dan mendengar bentuk bahasa Jawa yang dibawakan oleh seorang pranatacara, maka akan memunculkan bibit-bibit pranatacara baru yang nantinya akan menggantikan fungsi pranatacara yang telah tua atau meninggal. Dengan demikian, regenerasi profesi pranatacara akan dapat terus terjadi. Regenerasi inilah yang akan tetap melestarikan budaya Jawa yang adiluhung sebagai suatu kearifan lokal masyarakat Jawa yang hanya akan dijumpai dalam masyarakat Jawa sebagai ciri khas budaya Jawa.

C. Simpulan
Kehadiran pranatacara dalam budaya masyarakat Jawa merupakan suatu bentuk pelestarian budaya Jawa yang adiluhur sebagai sumber kearifan dalam kehidupan bermasyarakat yang mencerminkan identitas lokal masyarakat Jawa sehingga akan sangat penting bagi masyarakat Jawa untuk tetap melestarikan budaya tersebut dalam kehidupan bermasyarakat. Semakin banyak orang mengenal dan mendengar bahasa Jawa di ranah publik, maka semakin kokohlah bahasa Jawa sebagai cermin budaya bangsa yang ikut membesarkan bangsa Indonesia.

Sumber: http://www.kbj5.com/index.php?option=com_content&view=article&id=135:pranatacara-dalam-bahasa-jawa-sebagai-sumber-kearifan-dalam-kehidupan-bermasyarakat&catid=50:makalah-makalah-konggres-bahasa-jawa-v-komisi-c&Itemid=72
Read more

0 PERANAN WANITA DALAM RUMAH TANGGA

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ.
حَضْرَةَ الْمُكَرَّمِيْنَ para Ulamaul Alimin. Para bapak kyai yang kami mulyakan. Para ibu muslimat yang kami hormati dan juga mbak-mbak fatayat yang kami hormati.
Alhamdulillah pada saat ini kita sekalian telah ditakdirkan oleh Allah untuk bertemu, berpadu dan bersatu dengan para ibu muslimat dan mbak-mbbak fatayat di suatu majelis yang penuh barokah ini. Dan untuk menyesuaikan pertemuan inipun  yang akan kami bicarakan tentang Peranan Wanita dalam Rumah Tangga.
Para ibu-ibu dan para sahabati yang kami sayangi!
Hidup ditengah-tengah masyarakat dewasa ini, manusia tidak cukup berbekal kekuatan tenaga dan senjata, seperti halnya hidup ditengah hutan belantara yang dihuni oleh para binatang buas. Namun dengan berbekal ilmu yang bermanfaat itulah yang diperlukan dewasa ini, baik laki-laki maupun perempuan. Disebutkan dalam hadits:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ. (رواه ابن عبد البار)
Artinya:
Bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi tiap-tiap orang islam laki-laki dan perempuan. (H.R. Ibnu Abdil Bar)
Para ibu dan mbak-mbak fatayat yang kami sayangi!
 Dengan adanya hadits tersebut kita sudah jelas bahwa yang wajib mencari ilmu itu bukan hanya orang laki-laki saja tapi kaum wanitapun tidak boleh ketinggalan harus mencari ilmu.
Apalagi di dalam urusan rumah tangga, peranan wanita sangat diharapkan di dalam bergotong royong membantu suami menggembirakan suami dan menjaga harta suami apabila suami tidak dirumah. Rosulullah bersabda:
خَيْرُ النِّسَاءِ اِمْرَأَةٌ إِذَا نَظَرْتَ اِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَإِذَا أَمَرْتَ اَطَاعَتْكَ وَإِنْ غِبْتَ عَنْهَا حَفَظَتْكَ فِى مَالِكِ وَنَفْسِهَا. (رواه ابن عباس)
Artinya:
Sebaik-baik wanita yaitu seorang istri yang apabila engkau melihatnya is selalu menyenangkanmu. Dan apabila engkau perintah ia taat kepadamu dan apabila engkau tinggal pergi ia menjaga hartamu dan dirinya. (H.R. Ibnu ‘Abbas)
Para ibu-ibu dan para sahabati yang kami sayangi!
Disamping tugas-tugas di dalam rumah yang harus kita laksanakan kita masih diharapkan pengabdian kita terhadap masyarakat, bangsa dan negara. Jadi kita harus bisa menunjukkan pengabdian kita untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa dan negara. Rosulullah bersabda:
اَلْمَرْأَةُ عِمَادُ الْبِلاَدِ، إِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ الْبِلاَدِ وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ الْبِلاَدِ. (رواه الديلمى)

Artinya:
Kaum wanita itu tiang negara, manakala wanita itu baik maka negarapun baik dan manakala wanita itu rusak maka negarapun jadi rusak. (H.R. Addaelami)
Para ibu dan sahabati fatayat yang berbahagia!
Untuk menjaga nama baik negara kaum wanita harus menampakkan budi pekerti yang baik, jangan sampai kita menampakkan budi pekerti yang jelek yang mengakibatkan hancurnya nama baik bangsa dan negara. Insya Allah dengan demikian bangsa dan negara kita akan maju dan mencapai kejayaan.
Sekian uraian kami, kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
Read more

0 MENYAMBUT KEDATANGAN HAJI

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَمَرَنَا بِحَجِّ بَيْتِهِ الْحَرَامِ، وَجَعَلَهُ رُكْنًا مِنْ أَرْكَاِن اْلإِسْلاَمِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ اْلأَنَامِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ.
حَضْرَةَ الْمُكَرَّمِيْنَ فَارَا عَالِمْ وَالْعُلَمَاءِ.. Para bapak, para ibu hadirin sekalian yang berbahagia!
Pada kesempatan ini marilah kita panjatkan rasa puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan beberapa rahmat taufik serta hidayahnya sehigga pada kesempatan ini kita bisa berkumpul disini majelis demi untuk menyambut kedatangan para jamaah haji saudara-saudara kita sekabupaten Tuban. Kami ikut merasa gembira dan bangga hati karena saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji telah hadir ditanah air kembali dan dapat melaksanakan beberapa syarat-syarat dan rukkunnya, marilah kita do’akan mudah-mudahan bisa menjadi haji yang mabrur dan semoga kita yang belum dapat melaksanakan ibadah haji, selalu diberi keluasan rizki oleh Allah sehingga pada tahun yang akan datang kita segera dapat menunaikan ibadah haji. Amin... Ya Robbal Alamin.
Para bapak, ibu sekalian yang berbahagia!
Haji yang mambrur itu tidak ada balasan lain kecuali surga. Hal ini dijelaskan oleh nabi dalam suatu hadits:
اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ. (رواه أحمد)
Artinya:
Haji yang mabrur itu tidak ada balasan lain kecuali surga (H.R. Ahmad)
Para hadirin yang berbahagia!
Dengan adanya hadits nabi tersebut maka sangat agunglah pahala bagi orang yang sudah melaksanakan haji, oleh karena itu apabila kita sudah diberi keluasan rizki oleh Allah hendaknya segera kita laksanakan perintah Allah tersebut dan janganlah kita punya anggapan kalau apabila nanti dibuat menunaikan ibadah haji harta kita akan habis atau mengurangi kekayaan itu termasuk perbuatan kufur, karena haji itu diperintahkan oleh Allah bagi orang-orang yang mampu. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 67:
وَِللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتَ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ. (ال عمران:67)
Artinya:
Orang-orang yang sudah mampu (menetapi syarat-syarat dan rukunnya) diwajibkan oleh Allah menunaikan ibadah haji dan barang siapa berbuat kufur (tidak percaya kepada Allah dan ingkar akan kewajibannya haji) maka sesungguhnya Allah itu maha kaya dari orang semesta alam. (Q.S. Ali Imron: 67)
Para hadirin yang berbahagia!
Disamping itu ibadah haji yang mabrur termasuk salah satu amal yang lebih utama setelah iman dan jihat fisabilillah. Rosulullah SAW pada suatu saat pernah ditanya:
ياَرَسُوْلُ اللهِ أَيُّ اْلأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: اَلْإِيْمَانُ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ. قِيْلَ ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: جِهَادٌ فِى سَبِيْلِ اللهِ. قِيْلَ ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ. (رواه أبو هريرة)
Artinya:
Wahai Rosulullah! Amal apakah yang lebih utama? Beliau menjawab: iman kepada Allah dan RosulNya. Lalu ditanya, kemudian apa? Beliau menjawab: jihad fisabilillah. Lalu ditanya, kemudian apalagi? Beliau menjawab: haji yang mambrur. (H.R. Abu Hurairah)
Para hadirin yang berbahagia!
Adapun sebagian ciri-ciri haji yang mabrur yaitu apabila orang sudah melaksanakan haji maka ia menambah amal-amalnya yang bagus serta zuhud dunia atau menjauhi dari mencintai harta dunia mementingkan urusan akhirat.
Sedangkan ciri-ciri haji yang mardud yaitu apabila orang setelah haji malah mengurangi amal sholehnya dan sangat rakusnya dengan urusan dunia.
Para hadirin, demikianlah sekedar uraian tentang ibadah haji yang dapat kami sampaikan kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
Read more

0 PEMBERANGKATAN JENAZAH

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلاً، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَفْضَلِ الْخَلْقِ عَمَلاً، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا جَزِيْلاً. أَمَّا بَعْدُ: إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
Para bapak, para ibu, hadirin sekalian yang kami hormati!
Kami berdiri disini mewakili bpak H. Yasin sekeluarga menerima musibah dari Allah yaitu wafatnya ayahnya yang bernama mbah Sholeh. Kami mengucapkan ribuan terima kasih kepada para hadirin sekalian yang berbela sungkawa ikut memandikan, mengkafani dan mensholati jenazah dan lainnya.  Dan kami disini tidak dapat membalas dengan sesuatu apapun atas kebaikan budi para bapak dan hadirin sekalian, hanya saja kami dapat mendo’akan:
جَزَاكُمُ اللهُ اَحْسَنَ الْجَزَاءِ.
Semoga Allah SWT yang membalas budi baik para hadirin sekalian dengan kebaikan balasan yang melimpah. Amin.
Para bapak, ibu hadirin sekalian!
Selanjutnya mari kita do’akan semoga arwah almarhum mbah Sholeh diterima disisi Allah, diterima semua amal baiknya dan diampuni semua dosanya dan dilapangkan alam kuburnya. Amin. Dan semoga anak cucu serta semua keluarga yang ditinggalkan selalu diberi ketabahan dan kesabaran oleh Allah sehingga dapat meneruskan cita-cita dan perjuangannya.
Para hadirin yang berbahagia!
Perlu kami sampaikan bahwa selama mbah Sholeh masih hidup nampaknya mbah Sholeh ini termasuk orang berbudi baik, tidak pernah membikin resah terhadap keluarga dan tetangga kanan kirinya namun disini masih perlu kami ikrarkan para hadirin sekalian, bahwa jenazah mbah Sholeh ini termasuk jenazah yang baik apa baik? Baik apa jelek? Sekali lagi baik apa jelek? Terima kasih
اَنْتُمْ شُهَدَاءُ عَلَى اللهُ فِى اْلأَرْضِ.
Para hadirin sekalian, yang terakhir barangkali mbah Sholeh ini punya hubungan haq adam kepada hadirin sekalian, misalnya hutang piutang atau janji-jani yang lain kami minta untuk dihalalkan tapi seandainya haq itu berat untuk dihalalkan kami mohon untuk bermusyawarah dengankeluarga atau para ahli waris, agar keberadaan mbah Sholeh didalam kubur tidak menanggung beban yang berat.
Kiranya sekianlah dari kami, kurang lebihnya kami mohon maaf. Dan mari jenazah kita berangkatkan dengan membaca kalimah Toyyibah, sekian.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ. لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ. لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ
Read more

0 WALIMATUL ARS

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى جَعَلَ النِّكَاحَ مِنْ اَحَدِ سُنَنِ الْمُؤَكَّدَاتِ، لِأَنَّ بِهِ سَبَبًا لِوُجُوْدِ الذُّرِّيَّاتِ، وَجَعَلَ أَوْلَمَهُ مِنْ اَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نِالْمُؤَيَّدِ بِاْلَمُعْجِزَاتِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ جَاهَدُوا لِلصَّالِحَاتِ. أَمَّا بَعْدُ.
حَضْرَةَ الْمُكَرَّمِيْنَ para Ulamaul Alimin. Para bapak kyai yang kami mulyakan. Para tamu undangan walimatul ars yang kami hormati. Para hadirin sekalian yang kami hormati.
Berbicara tentang walimah ini sudah tidak terpandang asing lagi dikalangan umat Islam. Apalagi masa sekarang ini mengadakan walimah sudah membudaya dan mentradisi dikalangan masyarakat, bahkan setiap orang yang punya hajat seakan-akan tidak ketinggalan mengadakan walimah.
Pada asal mulanya mengadakan walimah itu memang anjuran dari Rosulullah SAW. Pada suatu saat sahabat Abdurrahman bin Auf itu menceritakan kepada Rosulullah SAW bahwa dirinya baru saja melaksanakan nikah dengan mahar atau mas kawin berupa emas seberat biji kurma, lalu beliau dido’akan barokah oleh Rosulullah SAW dan dianjurkan mengadakan walimah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing.
Rosulullah SAW sendiri juga pernah mengadakan walimah pada pernikahannya sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa mengadakan walimah itu hukumnya sunnah, karena mengikuti ajaran Rosulullah SAW.
Para hadirin yang berbahagia!
Adapun walimah itu bentuknya bermacam-macam, ada kalanya walimatul ars atau walimah manten, adakalanya walimah sunatan atau walimah khitan, adakalanya juga walimah kelahiran dan lain sebagainya. Namun diantara sekian banyak walimah-walimah itu yang diwajibkan didatangi adalah walimah manten, sedangkan walimah selain manten itu mendatangi hukumnya sunnat sepanjang dalam forum atau majelis walimah itu tidak ada udzur sara’ yang mencegah untuk hadir.
Para hadirin yang berbahagia!
Lalu mengapa kok hukumnya mendatangi walimah itu berbeda-beda? Kalau walimah manten itu mendatangi hukumnya wajib, sedangkan walimah selain manten hukumnya sunnat. Dalam hal ini menurut ulama’ ada yang menjelaskan kalau mendatangi wlimah manten itu hukumnya wajib karena dalam majelis terrsebut semua orang merasa gembira dan senang, tiada seorangpun yang merasa gelisah atau sakit. Termasuk orang yang menjadi kemanten merasa senang, yang diundang juga merasa senang, yang mengundang merasa senang, maka mendatangi hukumnya wajib.
Begitu juga dengan walimah kelahihran bayi, mendatangi juga tidak wajib, karena pada majelis tersebut yang diundang senang, yang mengundang senang, namun ibu yang melahirkan merasakan sakit. Maka mendatangi walimahnya tidak wajib.
Para hadirin yang berbahagi!
Pada saat ini kita menghadiri walimah manten atau pernikahan, maka yang kami bicarakan disini adalah tentang nikah.
Kata nikah bersal dari bahasa arab yang terdiri dari tiga huruf diantaranya yaitu huruf nun, kaf dan ha’. Ketiga huruf tersebut mempunyai arti sendiri-sendiri.
Yang pertama, huruf NUN, singkatan dari kata Nikmat. Jadi orang yang sedang melaksanakan nikah itu tentu merasa nikmat waktu malam nikmat, waktu siang nikmat dan waktu apapun nikmat.
Yang kedua, huruf KAF, itu singkatan dari kata Karomah (keramat). Jadi orang yang sudah nikah itu keramat. Artinya mulya. Buktinya, kedua mempelai yang kita walimahi saat sekarang ini paling mulya. Duduknya saja diatas dan dihiasi dengan perhiasan yang paling indah. Bagaikan raja dan permaisuri. Iya buka???!
Yang ketiga, huruf HA’, artinya Hikmah. Jadi setiap orang yang sudah melaksanakan nikah ini hikmahnya banyak. Diantaranya sebab nikah itu hikmahnya saudaranya menjadi bertambah banyak dan lagi menambah ketenangan hidup. Biasanya kalau masih bujang kalau berjalan matanya melirik-lirik, kalau dikamar sendirian banyak melamun, apalagi kalau musim hujan, udara dingin, kademen. Hikmah yang lain, kalau ada masalah, ada yang diajak musyawarah. Dan ada yang diajak gotong royong. Lebih dari itu, hikmahnya nikah demi untuk mewujudkan keturunan, menciptakaan kader-kader muslim agar dapat melestarikan kejayaan agama dan bangsa di masa yang akan datang.
Maka dari itu Rosulullah SAW menganjurkan pada generasi muda yang sudh mampu mencari mas kawin agar melaksanakan nikah. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim:
يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. (متفق عليه)
Artinya:
Wahai generasi muda, barang siapa diantara kamu sudah mempunyai biaya nikah, maka nikahlah. Karena nikah itu dapat menenangkan pandangan mata dan menjaga farji. Dan barang siapa belum mampu, maka berpuasalah karena dengan puasa itu mengekang syahwat. (H.R. Bukhori Muslim)
Para hadiri yang berbahagia!
Ada tiga N dan tiga A yang harus dijadikan pedoman bagi suami istri, yaitu Nyandang, Nyanding dan Nyandung. Nyandang maksudnya, suami wajib membelajani istri, baik sandang maupun pangan. Nyanding maksudnya suatu pedoman yang harus dilaksanakan yakni suami dan istri harus punya rasa kasih sayang agar rumah tangga selalu damai. Nyandung maksudnya suami harus punya kebijaksanaan mau menegur dan mendidik serta membenarkan sang istri kalau istri berbuat salah.
Kalau tiga A, yaitu: Asah, Adih dan Asuh. Maksudnya Asah, suami harus menganjurkan sang istri untuk hidup bergaul di masyarakat dengan tetangganya kanan dan kiri, sehingga tidak kelihatan asing terbeku dirumah.
Asih artinya suami harus punya rasa kasih sayang seakan-akan tidak ada wanita yang lebih cantik daripada istrinya. Dan bagi istri tidak ada orang lain yang lebih ganteng daripada suaminya.
Asuh artinya suami harus bisa mendidik kepada sang istri pada pendidikan agama, ibadah, meramut anak-anak, dan lain sebagainya.
Para hadirin yang berbahagia!
Rupanya hadirin sekalian sudah terlalu payah dan sudah lama duduknya di kursi, maka sangat kurang tepatlah kami memperpanjang bicara. Maka kami cukupi sekian, kurang lebihnya kami mohon maaf.
وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
Read more

0 PENERIMAAN PENGANTIN

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَحَلَّ النِّكَاحَ وَحَرَّمَ السِّفَاحَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَهْلِ الصِّدْقِ وَالصَّلاَحِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمُجَاهِدِيْنَ لِنَيْلِ السَّعَادَةِ وَالنَّجَاحِ. أَمَّا بَعْدُ.
حَضْرَةَ الْمُكَرَّمِيْنَ para Ulamaul Alimin. Para tamu undangan walimatul ars yang kami hormati. Para tamu pengantar pengantin putra yang kami hormati. Hadirin sekalian yang berbahagia.
Sebelumnya kami menyampaikan apa yang terkandung dalam hati kami, terlebih dahulu kami panjatkan rasa syukur dan puji kehadirat Allah Yang Maha Suci, yang mana pada saat ini kita ditakdirkan untuk bertemu disini majelias tetap dalam keadaan wajah yang berseri-seri.
Yang kedua kalinya semoga sholawat serta salam bahagia Allah SWT selalu terlimpahkan kepad junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta para ahli keluarga dan para sahabat. Amin!
Para bapak, para ibu sekalian yang berbahagia. Disini kami atas nama wakil bapak Shohibul hajah, yaitu bapak H. Sholeh sekeluarga pertama kami uzapkan:
مَرْحَبًا اَهْلاً وَسَهْلاً
Selamat datang, selamat bertemu kepada para hadirin sekalian, baik yang dari undangan walimatul ars maupun dari pengantar pengantin putra dari desa tanjungrejo kecamatan singgahan yang telah hadir disini majelis dalam keadaan selamat. Semoga atas kehadirannya para hadirin sekalian dicatat oleh Allah sebagai amal sholeh. Amin. Dan atas kehadirannya kami haturkan terima kasih.
Marilah hidangan yang kami suguhkan dihadapan para hadirin sekalian kita nikmati bersama dengan bacaan basmalah. Memang semenjak beberapa hari yang lalu kami sudah cicil-cicil atau sudah kami usahakan untuk memberi hidangan pada para hadirin sekalian dengan semewah-mewahnya. Namun, apalah kenyataan yang ada, takdir Allah SWT hanya sedemikian inilah yang dapat kami terima. Oleh karena itu marilah kita nikmati seadanya saja.
Atas segala kekurangan kami, baik mengenai tempat duduk atau hidangan, tingkah laku para juru laden yang kurang memuaskan hati para hadirin sekalian, kami sekeluarga mohon maaf lahir batin yang sebesar-besarnya.
Dan ketiga kalinya, tadi wwakil rombongan pengantar pengantin putra sudah menyerahkan penuh pengantin putra kepada kami, maka disini kami sebagai wakil orang tua pengantin putri langsung saja dengan perasaan gembira hati dan bangga dengan ucapan Alhamdulillah pengantin putra yang bernama Moh. Slamet ini, langsung kami terima dan kami anggap sebagai anak kami sendiri. Untuk itu kami mohon do’a restu kepada para hadirin sekalian mudah-mudahan kami sekeluarga bisa ngemong atau mendidik putra-putri kami dengan baik sesuai dengan syari’at ajaran agama Islam.
Yang keempat kalinya, kalau acara ini nanti sudah usai atau selesai maka para hadirin sekalian terutama para rombongan pengantar pengantin putra juga pamit dan terus pulang, namun kalau ada yang tidak menginginkan segera pulang dan masih mau jagong disini, kamipun lebih merasa senang, tapi kalau tidak ada yang menginginkan jagongan dan semuanya terus ingin pulang kamipun juga merestui dan kami tidak bisa memberi sangu apapun melainkan hanya bisa mendo’akan semoga perjalananpara hadirin sekalian mulai dari sini sampai tiba dirumah masing-masing selalu diberi keselamatan tiada sesuatu halangan apapun. Amin!
Dan yang terkahir kami mohon berkah do’a restu semoga mempelai berdua ini bisa menyusun hidup rumah tangga yang rukun, damai, penuh dengan berkah dan bahagia sejahtera didunia dan diakhirat, Amin Ya Robbal Alamin.
Para bapak, ibu sekalian!
Kiranya sekian yang dapat kami sampaikan, kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
Read more

0 PENYERAHAN KEMANTIN

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى مُدَوِّرِ اْلأَوْقَاتِ وَاْلأَيَّامِ، وَأَوْجَبَ عَلَيْنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّيَامِ، وَأَمَرَنَا بِاْلإِتِّحَادِ وَصِلَةِ اْلأَرْحَامِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ شَافِعِ اْلأَنَامِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ.
حَضْرَةَ الْمُكَرَّمِيْنَ para Ulamaul Alimin. Para bapak Kiyai yang kami mulyakan. Para bapak, ibu, hadirin sekalian yang kami hormati.
Pada awal kali ini marilah dalam pertemuan ini kita panjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT dengan ucapan Alhamdulillahi Robbil Alamin. Yang mana pada saat ini sekalian telah ditakdirkan oleh Allah SWT untuk bertemu disini majelis tetap dalam keadaan wajah yang berseri-seri.
Yang kedua kalinya semoga rahmat dan salam Allah SWT senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad beserta ahli keluarga dan para sahabatnya. Amin!
Para bapak, ibu, serta hadirin sekalian yang kami hormati!
Disini atas nama wakil rombongan pengantar pengantin putra, sekaligus mewakili orang tua atau keluarga pengantin putra dasi desa tanjungrejo kecamatan singgahan, perlu menyampaikan beberapa kata khususnya kepada wali atau orang tua pengantin putri dan umumnya kepada hadirin sekalian. Pertama, bahwa kedatangan kami serombongan mulai dari desa tanjungrejo ke desa singgahan ini alhamdulillah diberi keselamatan tidak ada suatu halangan apapun.
Yang kedua, kami mengucapkan ribuan terima kasih kepada orang tua pengantin putri sekeluarga karena kedatangan kami serombongan disambut dengan gembira dan ramah tamah serta disediakan tempat duduk dan beberapa hidangan yang sangat memuaskan hati kami. Disini hal itu semua kami tidak bisa membalas dengan sesuatu apapun melainkan hanya mendo’akan:
جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرَ الْجَزَاءِ.
Artinya:
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan bapak Shohibul Bait dengan kebaikan balasan yang berlimpah-limpah. Amin!
Yang ketiga kalinya, sebagai wakil dari kedua orang tua pengantin putra, yaitu bapak Bejo dan bu Marem yang semenjak dari rumah tadi sudah memberi amanat kepada kami agar nanti kami yang menyerahkan putranya yang bernama Moh. Slamet, dan karena tadi saudara Slamet sudah dijalin akad nikah dengan mbak Hindun secara resmi, maka dengan ucapan Bismillahirrohmanirrohim saudara Moh. Slamet kami pasrahkan kepada orang tua pengantin putri sekeluarga. Kami pasrah bongkoan, dan kami mohon kepada bapak Shohibul Bait agar Moh. Slamet ini dianggap dan diakui sebagai anaknya sendiri.
Ankami mohon do’a restu kepada bapak-bapak dan hadirin sekalian mudahan-mudahan kedua mempelai ini diberi barokah oleh Allah SWT , barokah umurnya, barokah rizkinya dan barokah anak keturunannya, serta barokah ilmunya. Amin!
Yang keempat kalinya, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada bapak Shohibul Bait sekeluarga karena kami serombongan selalu membikin repot pada bapak Shohibul Bait. Serta mengenai kekurangan-kekurangan dan kekhilafan kami serombongan baik mengenai apapun saja, sekali lagi kamo mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Para bapak, ibu sekalian yang berbahagia!
Dan yang terakhir kalinya bahwa seusainya acara ini nanti kamipun serombongan juga terus pulang, maka dari itu kami mohon pamit juga dan mohon do’a restu kepad bapak Shohibl Bait sekeluarga mudah-mudahan perjalanan kami mulai dari dalem sini hingga sampai rumahnya msing-masing semoga perjalanan kami serombongan diberi aman selamat tiada suatu halangan apapun. Amin, Ya Robbal Alamin.
Para bapak, ibu sekalian!
Kiranya sekian sambutan kami, ada kurang lebihnya kami mohon yang sebesar-besarnya.
وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
Read more

0 WALIMATUL KHITAN

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نِالنَّبِيِّ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَى. أَمَّا بَعْدُ.
حَضْرَةَ الْمُكَرَّمِيْنَ para Ulamaul Alimin. Khususnya Para bapak Kiyai yang kami mulyakan, sahabat-sahabat dan hadirin sekalian yang kami hormati.
Alhamdulillah, pada kesempatan ini kita bisa bertemu, berpadu dan bersatu disini majelis dalam rangka menghadiri walimatul khitan, yaitu khitannya bapak H. Muhsin yang bernama saudara Usman. Dan marilah kita do’akan mudah-mudahan adik Usman yang baru dikhitankan ini segera diberi kesembuhan oleh Allah SWT sehingga segera dapat melaksanakan tugas-tugas atau kegiatan sehari-harinya, seperti mengaji, belajar, sekolah dan lain sebagainya. Dengan harapan kelak dapat menjadi anak yang sholeh berguna bagi nusa dan bangsa. Amiin!
ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا. الأية

Artinya:
Dan kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ikutilah agama Nabi Muhammad.
Para hadirin sekalian!
Disamping hikmah dari pada khitan yang paling pokok yaitu untuk menghilangkan sisa-sisa najis atau kotoran yang melekat di pucuk dzakar atau penis, tanpa dikhitan najis-najis tidak dapat dihilangkan.
Maka dari itu dapat kita simpulkjan bahwa khitan itu hukumnya wajib. Didalam kita b ushul fiqih dijelaskan:
كُلُّ مَايُتَوَصَّلُ بِهِ اِلَى الْوَاجِبِ فَهُوَ وَاجِبٌ.
Artinya:
Semua perkara yang dibuat lantaran untuk melaksanakan perkara wajib, maka hukumnya pun wajib.
Para hadirin yang berbahagia!
Masih banyak lagi hikmah-hikmahnya khitan yang perlu dijelaskan secara logis. Sebagian saja diantaranya:
1.    Pertama, khitan itu menyebabkan orang menjadi berjiwa pemberani (kendel, bhs. Jawa). Buktinya orang-orang dahulu pada waktu Indonesia ini masih dijajah Belanda dan Jepang, orang-orang yang berani melawan dan mengusir para penjajah tidak lain adalah orang-orang yang sudah sunat (khitan). Sementara itu yang belum khitan semua belum berani.
2.    yang kedua, khitan itu menimbulkan kesehatan, menjauhkan penyakit karena najis dan kotoran yang ada pada pucuk dzakar itu apabila tidak dikhitan bisa menimbulkan penyakit.
3.    yang ketiga, khitan itu agar payu rabi (bhs. Jawa), karena gadis-gadis atau perawan-perawan itu kalau akan dinikah oleh orang yang belum khitan tentu tidak mau, malah-malah perawan itu mengejek “ wong suat ae durung kok arep rabi to le....le.... emoh aku”.
4.    yang keempat, khitan itu bisa menyebabkan ketinggian derajat seseorang. Buktinya, para tokoh kita, para bapak kyai dan para pejabat kita semua bisa mempunyai derajat yang tinggi lantaran mereka semua sudah sunat atau khitan. Tanpa khitan tidak mungkin mereka jadi pak kyai.
5.    yang kelima, khitan itu bisa menambah nikmatnya hubungan seksual. Seperti halnya maka pisang yang sudah dikupas kulitnya dan sebelum dikupas kulitnya, tentu lebih enak yang sudah dikupas kulitnya.
Para hadirin sekalian!
Demikianlah sekedar uraian tentang khitan yang dapat kami sampaikan, semoga ada manfaatnya. Dan sekali lagi marilah kita berdo’a semoga adik Usman yang baru dikhitan ini segera sembuh dan semoga keelak bisa menjadi anak yang taat kepada Allah SWT, taat kepada Rosulullah SAW dan taat kepada kedua orang tuanya dan bisa berguna bagi agama, bangsa dan negara. Amin..!
Sekian kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
Read more

0 WALIMATUL MAULID (AQIQOH)

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى خَلَقَ الْمَاءِ بَشَرًا، فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا، وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَفْضَلِ الْوَرَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ.
حَضْرَةَ الْمُكَرَّمِيْنَ para Ulamaul Alimin. Para bapak kyai yang kami mulyakan, para sahabat-sahabat sekalian dan hadirin sekalian yang kami hormati!
Pada kesempatan ini marilah terlebih dahulu kita panjatkan rasa puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat kepada kita sekalian sehingga pada kesempatan ini kita sekalian dapat menghadiri undangan (Bpk. H. Umar, misalnya) sekeluarga. Yang mana pada saat ini bapak H. Umar melahirkan rasa syukur kehadirat Allah SWT karena telah mendapatkan anugerah, yaitu dilahirkannya putra yang pertama dalam keadaan selamat, yang mana saat ini diperingati kelimaharinya atau istilah jawanya sepasaran bayi.
Para hadirin sekalian!
Tidak lain kehadiran kita pada saat ini, bapak H. Umar minta berkah do’a restu kepada kita sekalian, mudah-mudahan putra bapak H. Umar yang diperingati kelahirannya pada saat ini kelak bisa menjadi anak yang sholeh, yang selalu taat kepada Allah SWT dan RosulNya, serta taat kepada kedua orang tuanya. Dan semoga juga menjadi anak yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Amin, Ya Robbal Alamin.
Para hadirin sekalian yang kami hormati!
Adapun mengenai pemberian nama pada saat ini putra bapak H. Umar diberi nama Ahmad Zainuddin.
Memang para hadirin sekalian, menurut ajaran Rosulullah SAW sebagai orang tua ini berhak memberi nama kepada putra-putrinya dengan nama yang baik. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud yang berbunyi:
حَقَّ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ أَنْ يُحْسِنَ اِسْمَهُ وَأَدَبَهُ وَأَنْ لاَيَرْزُقَهُ إلاَّ طَيِّبًا وَأَنْ يُعَلِّمَهُ السِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَأَنْ يُزَوِّجَهُ إِذَا أَدْرَكَ. (رواه ابو داود)

Artinya:
Hak orang tua terhadap anaknya yaitu diantaranya memberi nama yang baik dan mendidik adabnya dan tidak memberi rizqi kecuali yang halal dan mengajarkan berenang dan memanah (olahraga) dan menikahkan bila sudah saatnya. (H.R. Abu Daud)
Para haddirin sekalian!
Sesuai dengan adanya hadits nabi tersebut, memang anak itu sebagai amanat Allah SWT yang dibebankan kepada orang tuanya. Maka dari itu kita sebagai orang tua kita harus berhati-hati dalam mengemban amanat Allah SWT jangan sampai putra-putri kita, kita biarkan terlantar tidak pernah kita urus pendidikannya, rizkinya, maupun ibadahnya. Apalagi kalau anak itu hampir menginjak massa aqil baligh, kita harus lebih ketat dalam mengawasi, terutama dibidang ibadahnya atau sholatnya, karena pada usia menjelang baligh itu anak-anak mudah dipengaruhi, pikirannya mulai melonjak, nafsunya menggebu-gebu, maka kalau kita kurang waspada putra-putri kita bisa terjerumus kearah yang negatif yang tidak kita inginkan.
Para hadirin sekalian!
Untuk lebih mudahnya dalam menyelamatkan putra-putri kita agar tidak mudah terpengaruh pada kebudayaan-kebudayaan yang dapat merusak mental para generasi kita.
Hendaknya putra-putri kita ini selalu dididik dengan ajaran ilmu agama. Misalnya disekolahkan di madrsah atau di pondok pesantren agar bisa mengetahui hukum-hukum serta ajaran-ajaran yang halal dan yang haram. Bisa membedakan itu perintah dan itu larangan.
Insya Allah dengan cara demikian putra-putri kita bisa menjadi putra-putri yang sholeh dan sholihah sesuai dengan harapan dan cita-cita kita. Amiiin!
Para hadirin! Sekian uraian kami, kurang lebihnya kami mohon maaf.
وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
Read more

Delete this element to display blogger navbar

 
© K4ng Thowil | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger
back to top